Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!
O
genki desuka?
Yups, selamat datang di #CeritaNa dan selamat membaca sepenggal kisahku selama di Negeri Sakura ini c:
Oke kita mulai dari episode 1 yah, here we go! Setelah kalian tau siapa aku dan bagaimana latar belakangku, sekarang saatnya mengetahui sedikit pengalamanku yang mungkin akan berguna (juga) untuk kalian yang ingin ikut program yang sama atau serupa. Perjalanan dimulai ketika aku melihat instagram @ico_ipb pada 31 Oktober 2018. Saat itu, aku melihat bahwa sedang ada program “Mie University Spring Exchange Scholarhsip 2019” yang dipost oleh @ico_ipb dan setelah menelusuri lebih lanjut bahwa program tersebut TUITION FREE alias GRATIS. Program tersebut juga menyediakan beasiswa sebesar 20.000JPY, meskipun akan ada penyeleksian lebih lanjut oleh pihak universitas. Dengan hanya bermodal smarthphone dan koneksi Wi-Fi yang super kencang di @sekolahbisnisipb, aku mencari informasi tentang lokasi, informasi kampus, dan required documents melalui website resmi nya disini.
Sebuah kebetulan ketika aku mengetahui bahwa lokasi kampus berada tidak cukup jauh dari rumah salah satu sepupu ku yang menetap di Jepang, yaitu Kak Tyas. Sontak aku segera memberanikan diri untuk memiliki niat “mendaftar” karena selain lokasi yang dekat dengan kerabat, persyaratan dokumen pun tidak terlalu sulit untuk dipenuhi dalam kurun waktu 7 hari (deadline pengumpulan berkas di 7 November 2018).
Sekolah di luar negeri telah menjadi impianku sejak kecil, dan mimpiku adalah bisa mengunjungi Negara yang sebelumnya belum pernah dilihat orang tuaku agar aku bisa mewakili mereka untuk melihat bagaimana keindahan ciptanNya, as simple as that. Lanjut, setelah itu aku langsung mengunduh seluruh required documents pada website tersebut dan membaca guide book terlebih dahulu agar mengetahui tentang berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk program ini. Karena, jika boleh jujur, aku bukan berasal dari keluarga kaya raya yang punya kelebihan uang untuk sekolah di luar negeri. Ya, orangtua ku merupakan sosok sederhana yang senantiasa memberikan kecukupan untuk anaknya. Hingga aku bisa membahagiakan mereka, setidaknya aku tidak menyusahkan mereka (hehe kenapa jadi kultum).
Saat memutuskan untuk untuk mendaftar program ini, aku belum minta izin atau restu ke orangtua ku, kalian tau karena apa? Hehe apalagi kalau bukan biaya. Saat itu aku berfikir, ketika kamu punya niat baik, insyaAllah Allah SWT akan mudahkan itu semua.
Usut punya usut, ternyata ada salah satu mahasiswi IPB yang pernah mengikuti program ini. Beliau adalah Farida Utami Ritonga, beliau juga yang menjadi salah satu orang yang selalu aku repotkan untuk bertanya segala hal. Selain itu, aku juga banyak bertanya ke Rezky Bela Agatha, yaitu salah satu mahasiswi SB IPB yang juga sedang mengikuti program exchange di universitas yang berbeda.
Jarak waktu pendaftaran yang cukup singkat membuat ku harus bergegas mengumpulkan segalanya dalam satu waktu. Ditambah lagi, jarak kampus ku dengan International Collaboration Office IPB yang tidak dekat serta waktu kuliah yang sedang padat-padatnya menjadi tantangan yang harus aku hadapi. Namun, yang sudah aku katakana, ketika niat kita (InsyaAllah) baik, pasti macet, hujan, badai, hilang semua wkwkw. Nah, Berikut beberapa dokumen yang harus dikumpulkan dan cara yang aku lakukan untuk memenuhi dokumen tersebut.
1) Application for Admission 2019 Tinggal isi aja, eits jangan lupa periksa berkali-kali dan gunakan kalimat yang meyakinkan. Buat study plan yang betul juga ya hehe, kalau mau lihat di Google banyak banget kok! Tapi biasakan untuk memfilter seluruh informasi dulu ya (amati, tiru, modifikasi) dan jangan plagiat.
2) Certificate of Health Kalian harus melakukan medical check up ke RS dengan biaya yang tidak sedikit, tapi kita bisa minta dokter nya sendiri untuk mengisi form tersebut. Di Bogor sendiri, biayanya cukup beragam karena sesuai dengan kebutuhan pasien. Aku sendiri melakukan MCU di RS Karya Bakti Pratiwi (Dramaga) dengan biaya sekiar Rp250 000 (ini yang paling murah dan meskipun tidak lengkap pemeriksaannya, setidaknya sudah bisa mengisi formulir yang dibutuhkan).
3) Dormitory Questionnaire Pastikan kalian mengisi ini sesuai dengan budget kalian ya, tenang aja semua asramanya enak kok! Jenis kamar, fasilitas, dan estimasi biayanya bisa kalian lihat di website resmi.
4) Questionnaire for Certificate of Eligibility Ini diisi aja, simple kok hehe. Tapi jangan sampai ada yang salah yaaa (Soalnya waktu itu aku salah isi pendapatan orang tua, jadi harus ngurus ke Bank dan kirim dokumen aslinya ke Jepang dengan biaya sendiri).
5) Questionnaire sheet of Faculty of Humanity, Law, and Economics Ini optional, kalau kamu pilih masuk fakultas tersebut, silahkan dilengkapi ya. Jangan lupa, cari tahu dulu Mie University punya fakultas apa saja.
6) Mie University Scholarship Form Formulir ini sebenarnya tinggal diisi aja sih, tapi harus berhati-hati dalam pemilihan kata ya alias kalian harus buat essay terbaik untuk menunjukkan bahwa kalian pantas menjadi awardee dari beasiswa tersebut.
7) Recommendation Letter Nah ini harus minta ke dosen pembimbing atau dekan kamu. Gampang kok, tinggal datang, ungkapkan tujuan, dan minta persetujuan. Jadi deh! Aku sendiri meminta surat tersebut dari dekan SB IPB sekaligus dosen pembimbing ter-super, ter-supportive, dan ter-segala-galanya yaitu Bapak Noer Azam Achsani.
8) Academic transcript Transkrip ini harus dalam bahasa inggris ya, waktu itu aku mengurusnya ke loket Dit AP dengan membawa seluruh fotocopy transcript dan bukti pembayaran UKT Semester 7, namun karena saat ini pelayanan rektorat IPB sudah dialihkan ke SSC. Jadi untuk mekanismenya bisa kalian cari tahu sendiri ya.
9) Certificate of Enrollment Surat ini bisa dibuat di Divisi Akademik dan Kemahasiswaan SB IPB dalam waktu 3 hari kerja. Atau kalau kalian bukan mahasiswa SB IPB, kalian bisa minta ini ke Komdik atau yang bersangkutan pada masing-masing departemen atau fakultas.
10) Photo Foto yang dikirim juga harus sesuai peraturan ya, ketentuannya ada semua kok di Guide book, dan pastinya foto harus diambil dalam waktu 6 bulan terakhir.
11) Scanned Passport Kalau berkas ini tinggal scan aja passport yang ada, eits sebelum itu pastikan kalian punya passport yang masih berlaku hingga lebih dari 1 tahun atau hingga periode pertukaran pelajar tersebut selesai.
12) Sertifikat Bahasa (optional) NAH, ini poin yang buat aku semangat karena sertifikat bahasa tidak menjadi syarat wajib. Kenapa aku senang? Bukan karena aku minus banget loh ya wkwk, tapi karena dalam 6 bulan terakhir aku belum kembali mengikuti TOEFL, TOEIC, ataupun IELTS, apalagi JLPT. Jadi, tahu kan betapa senangnya hayati wkwk.
Di IPB sendiri, ada 2 orang yang apply program ini. Sebenarnya keduanya bisa saja diajukan ke Mie University karena tidak ada batas maksimum, namun dari Mie University hanya membolehkan 1 orang saja yang apply beasiswa yang bahkan akan diseleksi lagi setelah peserta sampai di Jepang. Sehingga, di tahap seleksi berkas lingkup IPB, aku menjadi salah satu orang yang mendapatkan kesempatan tersebut, hingga akhirnya seluruh dokumen ku diterbangkan ke Jepang.
Dan disini juga aku merasa sangat beruntung dan dipermudah, karena saat ini IPB telah memfasilitasi mahasiswanya untuk mengajukan Travel Grants yang membuat kita bisa terbang ke mana saja karena di support oleh IPB (eits, aku juga punya tulisan tentang travel grants loh yang bisa kalian lihat disini).
Mungkin ada pertanyaan di kepala kalian, kenapa yang ikut program ini sedikit sekali (dari IPB). Jawabannya adalah ada pada diri masing-masing wkwk, aku tidak bisa men-generalisir kasus ini, tapi jika aku bisa menduga adalah ada 3 poin pertimbangan, 1) karena program ini tidak menanggung biaya hidup, padahal seperti yang kita tahu bahwa biaya hidup di Jepang sangat-sangat tinggi. Beasiswa yang diberikan pun mungkin hanya mencakup 1/3 atau ½ dari keseluruhan biaya yang dibutuhkan. Selain itu, poin ke 2) mungkin nih ya (mungkin), nama Mie University belum se-terkenal TUAT, Nagoya University, dan universitas terkemuka lainnya. Dan yang terakhir 3) program exchange dinilai tidak terlalu memiliki bonafit karena selain memperpanjang masa studi, terkadang proses untuk melakukan transfer nilai juga kerap kali tidak mudah.
Dan jika kalian punya atau bisa menduga alasan logis lainnya, silakan berpendapat selama berbicara dan berifkir itu gratis^^.
Mungkin itu yang bisa aku bagikan untuk hari ini, nantikan cerita selanjutnya, akan ada banyak tokoh yang akan aku abadikan dalam #CeritaNa. Apakah kalian salah satunya? Hohoooo aku juga tidak tahu Ferguso!
Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh.
Komentar